Yoyo dan University Rotterdam Belanda

yohana-2

yohana-4

“Nothing is impossible until it’s done”, – Nelson Mandela

Rotterdam, Autumn 5 degrees 2016

Kalimat itu adalah mantra yang berhasil membawa saya untuk duduk dan menikmati pendidikan di salah satu universitas ternama di Eropa, Erasmus University Rotterdam (EUR). Perjalanan untuk sampai di negeri ini bukanlah perjalanan yang mudah, bukan juga perjalanan yang mustahil (ya, hasilnya saya dapat menuliskan cerita ini dari kursi study facility di kampus Erasmus).

Saya alumni Akuntansi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) angkatan 2009, yang bernama lengkap Yohana Carla Sitanggang. Akrab disapa dengan nama Yoyo, saya lahir di Pematangsiantar, 25 tahun yang silam. Pematangsiantar itu adalah kota kecil di Sumatera Utara, 2,5 jam dari Medan.

Saat ini saya sedang dalam proses menyelesaikan tugas akhir untuk lulus program master dari departemen Accounting, Auditing and Controlling, di Erasmus University Rotterdam (EUR), Belanda. Saya melanjutkan kuliah dengan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Saya rasa, hampir semua mahasiswa dan alumni pernah mendengar tentang institusi LPDP ini.

Lalu, bagaimana caranya saya bisa sampai disini dengan beasiswa? Dan bagaimana kehidupan serta proses pendidikan saya selama disini? Banyak orang yang sering mengatakan hal ini kepada saya, “wah enak sekali Yoyo bisa sekolah ke Belanda, dibiayai oleh pemerintah pula”. Tapi sesungguhnya, proses yang saya lewati justru lebih berat ketika sudah sampai disini. Tanggung jawab dan kewajibannya lebih banyak dalam waktu yang terbatas.

Proses yang saya lalui sebelum berangkat cukup panjang. Persiapan yang dilakukan juga tidak setahun, tapi empat tahun. Ya, saya aktif di berbagai organisasi di dalam dan luar kampus, serta berusaha mempertahankan IPK minimal 3,50 adalah bagian dari persiapan saya untuk berangkat melanjutkan kuliah. Saya bersaing dengan ribuan orang, tidak hanya saat mendaftar pada kampus tujuan, tapi juga ketika berupaya mendapatkan beasiswa. Karena untuk kuliah dengan biaya sendiri, rasanya sangat berat dan agak tidak mungkin dilakukan dengan kondisi saya yang merupakan anak pertama dengan 3 adik yang dua diantaranya masih mengenyam pendidikan juga.

yohana-2

Ketika itu, hal yang paling mengkhawatirkan adalah latar belakang saya yang lulus dari Akuntansi UPI. Bukan saja karena universitasnya yang masih kalah jauh dengan universitas seperti ITB, UGM dan UI. Tapi juga karena jurusan Akuntansi UPI yang prestasi dan kualitasnya masih belum dikenal oleh masyarakat luas, terlebih lagi oleh institusi sekelas LPDP dan kampus-kampus ternama di Eropa dan Amerika. Saya rasa untuk hal ini, teman-teman juga pasti merasakan hal yang sama.

Bukan karena kualitas kita yang buruk, tapi lebih karena selama ini orang-orang belum mau melihat potensi lulusan Akuntansi UPI dan lebih banyak memandang bahwa UPI hanya mencetak pendidik-pendidik, bukan professional lain selain pendidik atau guru. Namun, saya tidak menyerah begitu saja. Meskipun sudah khawatir, saya tetap memutuskan untuk maju. Kata-kata oleh bapak Nelson Mandela diatas-lah yang membuat saya yakin bahwa saya harus mencoba.

Banyak hal yang harus saya persiapkan saat itu, tepatnya tahun 2015. Saya harus rela belajar IELTS sendiri di tengah-tengah kesibukan bekerja sebagai seorang auditor dan tugas luar kota. Saya juga harus bolak-balik Jakarta-Bandung untuk beberapa dokumen penting yang harus dipersiapkan. Beruntungnya, Bapak Nono, yang menjabat sebagai Ka-Prodi saat itu, Ibu Indah Fitriani selaku dosen pembimbing skripsi saya dulu dan Pak Kiki, bagian administrasi prodi, banyak sekali membantu urusan dokumen yang saya butuhkan.

Saya juga sempat putus asa karena gagal test IELTS pertama, dan merelakan untuk tidak memenuhi tenggat waktu melamar pada salah satu institusi beasiswa yang saya targetkan (STUNED). Masih harus berusaha dan berkejaran dengan waktu, saya ikut test IELTS yang kedua. Puji Tuhan, hasil yang kedua memenuhi syarat untuk kampus dan LPDP. Dengan harap-harap cemas, dan tenggat waktu yang tinggal dua hari lagi, saya pun memasukkan lamaran untuk EUR, dan LPDP. EUR adalah satu-satunya kampus yang saya masukkan lamaran. Bukan karena tidak mau berusaha, tapi dari seluruh kampus yang sudah saya telusuri, Erasmus-lah satu-satunya yang menawarkan program yang saya inginkan, setidaknya di Eropa dan UK.

Tidak sedikit orang yang meminta saya untuk tidak berharap jauh, karena umumnya institusi international dan beasiswa sejenis LPDP juga akan mempertimbangkan latar belakang S1 dari pelamarnya. Terlebih, saya mengajukan seleksi di Jakarta. Populasi alumni yang lulus dari universitas sekelas UI, ITB,UGM, UNPAD, IPB dan universitas negeri ternama lainnya jelas jauh lebih banyak ketimbang lulusan UPI, yang berdomisili atau memilih seleksi di Jakarta. Belum lagi dengan universitas swasta ternama di Jakarta. Meskipun begitu, saya tidak menyerah. Di belakang saya banyak orang-orang yang juga mendukung saya untuk tetap berusaha.

Singkatnya, akhirnya saya lolos dan menjadi salah satu awardee yang meneriman beasiswa LPDP, dari ribuan peserta yang mendaftar. Sebelum dinyatakan lulus LPDP, saya sudah lebih dulu dinyatakan diterima di EUR pada jurusan Accounting, Auditing and Controlling, spesialisasi Auditing. Dan kemudian berangkat untuk kuliah pada Agustus 2015. Hal yang membanggakan tentunya. Mengingat, saya kemungkinan besar adalah satu-satunya dan yang pertama dari alumni Akuntansi UPI yang melanjutkan jenjang pendidikan master ke luar negeri dengan beasiswa LPDP, sejak LPDP berdiri pada tahun 2013 silam. Setelah itu, ada beberapa teman yang saya ketahui kemudian lulus menjadi awardee LPDP. Salah satunya juga adalah alumni Akuntansi UPI.

Lalu apakah perjuangan dan kesulitannya berakhir sampai disitu? Tidak. Bahkan perjuangannya justru semakin berat ketika sudah sampai di Belanda. Di titik ini, kualitas sebagai alumni UPI benar-benar dipertaruhkan. Karena sedikit banyak, apa yang saya dapatkan selama berkuliah di UPI juga berpengaruh pada proses belajar saya di EUR, menurut saya.

yohana-3

Sistem dan kultur belajar mahasiswa di Eropa sangat jauh berbeda ketika saat saya masih kuliah di UPI. Kalau dulu ketika masih di UPI, belajar sekitar dua atau tiga hari sebelum ujian masih bisa mendapatkan nilai A atau B untuk beberapa mata kuliah tertentu, di Belanda, saya harus belajar 2 minggu sebelum ujian untuk mata kuliah yang dianggap paling mudah, dan itupun tidak lulus. Belum lagi masih ada tugas setiap minggu yang harus dikumpulkan, baik itu paper, tugas diskusi kelompok atau tugas lainnya.

Di Belanda, dan Eropa pada umumnya, selain perpustakaan, ada juga yang disebut study facility, yaitu gedung atau ruang belajar mahasiswa yang disediakan kampus, lengkap dengan jaringan internet, beberapa rak buku dan jurnal serta komputer dan data service untuk memperoleh data yang kita butuhkan. Perpustakaan dan study facility penuh hampir setiap hari, terutama di minggu ujian. Jangan berharap akan mendapatkan tempat duduk kalau datang ke kampus lewat dari pukul 09.00 pagi hari. Bisa dibayangkan jika harus belajar hingga malam hari sebelumnya, dan kembali hari setelahnya di pagi hari, bersepeda dengan cuaca, suhu dibawah 0° dan angin di periode musim gugur menuju musim dingin seperti saat ini: beku, lelah, dan masuk angina. Tidak mudah untuk mendapatkan tolak angin atau wedang jahe disini.

Jadi, tidak hanya harus berusaha menyesuaikan diri dengan sistem belajar dan kultur-nya, saya juga harus menyesuaikan diri dengan suhu dan musimnya, makanan dan karakter orang-orang yang ada disini, termasuk teman sekelas dan dosen-dosennya. Selain belajar, saya juga harus pintar membagi waktu untuk organisasi dan mengatur keuangan. Meskipun LPDP memberikan uang saku yang cukup, saya tetap harus memasak dan menggunakan sepeda untuk transportasi kemana-mana. Kalau tidak, ya selain tidak bisa menabung, saya juga pasti akan merasa kurang dari segi finansial. Membeli satu kali makan siang di luar, harganya sama dengan membeli bahan makanan untuk dimasak seharian mulai dari sarapan, makan siang dan makan malam.

Tetapi, bukan berarti saya tidak bisa liburan dan jalan-jalan bersama teman-teman disini. Menariknya, ada liburan panjang setiap Desember-January dan Agustus-July. Umumnya waktu-waktu inilah yang digunakan anak-anak Indonesia disini untuk liburan keliling Eropa. Setelah usaha untuk lulus ujian dan menabung tentunya. Hal menyenangkan lainnya kuliah disini adalah kemudahan internet dan mengakses jurnal internasional. Sejalan dengan usaha belajarnya, pihak kampus juga berusaha memudahkan mahasiswa untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk belajar dan mengerjakan tugas.

Saat inipun, saya sedang berusaha untuk menyelesaikan tesis. Cukup sulit. Karena saya tidak terbiasa menulis karya ilmiah dalam Bahasa Inggris. Jauh berbeda ternyata saat menulis blog atau status media sosial dalam Bahasa Inggris dengan menuliskan paper atau tesis dalam Bahasa Inggris. Sehingga usaha yang dibutuhkan lebih besar. Belum lagi “tekanan” berupa pertanyaan dari teman-teman dan keluarga “kapan pulang? Kapan selesai?”.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingat satu cerita menarik terkait keberangkatan saya ke Belanda. Pada tahun ketiga kuliah, Pak Denny Andriana – saya yakin beliau ini terkenal di Prodi Akuntansi UPI – bersama dengan saya dan dua orang teman saya sempat bermimpi akan bertemu di langit Eropa, dimana saya dan dua orang teman itu akan melanjutkan sekolah master, dan pak Denny melanjutkan sekolah doktoral. Beberapa tahun kemudian, kesempatan itu benar-benar datang. Saya dan Pak Denny belajar di benua yang sama, di bawah langit yang sama, Eropa. Meskipun saya berangkat tanpa kedua teman saya tadi.

Point saya adalah, Bermimpilah! Dengan bermimpi yang tinggi, kita akan berusaha lebih besar lagi untuk mimpi itu. Meskipun dalam waktu yang tidak singkat, perlahan mimpi itu akan kita raih. Dan untuk itu, bukan sedikit pengorbanan, lelah dan air mata yang akan menemani perjalanannya. Jangan takut mencoba, hanya karena masih banyak orang-orang di luar sana yang belum mengenal kualitas alumni kita. Bukan berarti kita tanpa kualitas dan prestasi, tapi karena kita memang masih punya tugas besar untuk menunjukkan kualitas kita. Saat inipun, prestasi dan kualitas Akuntansi UPI sudah mulai diperhitungkan. Prodi sudah berakreditasi A tahun ini. Dan semakin banyak alumni-nya yang tidak takut mencoba hal besar, seperti saya dan teman-teman lain yang juga sedang mencari mimpinya masing-masing.

Harapan saya suatu saat akan ada perkumpulan alumni Akuntansi UPI di daratan Eropa dan Amerika. Karena itu, ditunggu di Eropa, teman-teman. Sampai bertemu di tanah air. Bermimpilah!

 

Salam dari Rotterdam,

Yohana “Yoyo” C.S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *